A. Riwayat Hidup dan Karya
Karl Marx lahir di Trier, Prusia, pada
tanggal 5 Mei 1818. Kedua orangtuanya adalah keturunan pendeta Yahudi (rabi).
Ayahnya bernama Heinrich Marx, seorang pengacara ulung di Traves. Ibunya, Henriette
ialah puteri seorang rabi dari Belanda. Pada
tahun 1824 Marx dan seluruh keluarganya berpindah agama dan dibaptis di dalam
Gereja Lutheran.[1] Di
usia 17 tahun Marx menamatkan Gymnasium
di Treves. Atas keinginan ayahnya, ia studi Hukum di Universitas Bonn. Namun ia
kemudian pindah ke Universitas Berlin pada
tahun 1836 karena
berminat dengan filsafat Hegel. Di Berlin ia bergabung
dengan Doktorclub Young Hegelian.[2]
Pada tahun 1841 Marx menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Jena dengan
tesis berjudul: Die Differenz
der Demokritischen
und Epikureischen
Naturphilosophie (Perbedaan Filsafat Alam
Demokritos dan Epikurus). Karena terhimpit situasi politik, karir Karl Marx bukan menjadi dosen tapi beralih menjadi
penulis untuk harian Rheinische Zeitung
di Köln dan pada Oktober 1842 ia
menjabat sebagai editor utama.
Namun, surat kabarnya dibrendel
pemerintah Prusia pada Maret 1843 lantaran pemikiran radikalnya dalam politik.
Pada titik ini, Marx
memutuskan keluar negeri. Ia
menikahi Jenny von Westphalen, seorang putri bangsawan Prusia dan tinggal di
Kreuznach. Ia
berpindah ke Paris pada Oktober 1843
dan menjadi editor Deutsch-franzosische
Jahrbucher. Di tahun 1844 Marx bertemu dengan
Friedrich Engels (1820-1895), pengusaha pabrik pemintalan kapas. Bersama
Engels, Marx menulis Die Heilige Familie
(Keluarga Kudus)[3] untuk mengkritik Bruno
Bauer. Marx
sempat diusir dari Prancis pada tahun 1845 dan berpindah ke Brussels. Ia menulis
suatu serial Thesen ǘber Feuerbach. Dari tahun
1845-1846 Marx dan Engels menulis Die
deutsche Ideologie (Ideologi Jerman). Ia pun bergabung dengan liga komunis
dan bersama Engels diminta menulis anggaran dasar liga itu. Hasilnya adalah Das Kommunistische Manifest (Manifesto Komunis)
tahun 1848, sebuah karya
besar dengan slogan politik termasyurnya, yakni: kaum buruh seluruh dunia
bersatulah![4]
Tahun 1849 Marx pindah ke London. Karena kegagalan dalam revolusi politik 1848,
ia beralih ke kegiatan riset yang lebih rinci tentang peran sistem kapitalis di British Museum.
Tahun-tahun pengasingannya di Inggris merupakan saat sulit yang dihadapi Marx. Keluarganya mengalami kesulitan
finansial, namun
tetap didukung oleh Engels,
sahabatnya. Kesehatan Marx terus memburuk selama
10 tahun akhir hidupnya. Ia wafat pada tanggal 14 Maret 1883 dan dimakamkan di
Highgate Cemetery, London.
Buku
Marx yang penting selain Das Kommunistische
Manifest ialah Economic and Philosophic Manuscripts pada tahun 1844, dan sudah
tentu bukunya yang terkenal Das Kapital
(1867; jilid kedua dan ketiga dikeluarkan oleh Engels pada tahun 1885 dan
1894). Pelbagai buku diterbitkan oleh Engels selepas kematian Marx, antaranya Dialectics of Nature (1925).[5]
B. Gagasan-Gagasan Dasar Karl Marx
Pada bagian ini kelompok hendak
menjelaskan intisari gagasan Karl Marx dengan rujukan 3 tulisannya di dalam dua
karya, yakni Das
Kommunistische Manifest dan Economic and Philosophic Manuscripts. Deskripsi atas pemikiran Marx disusun dalam bentuk
tesis dan argumennya. Adapun gagasan yang terungkap sebagai berikut:
B.1. Gerakan Komunis menurut Karl Marx[6]
Tesis: Komunis sebagai
partai oposisi berkembang dengan
munculnya kejayaan dari kaum borjuis yang menindas
kaum proletar serta semua masyarakat. Kemudian, bangkitlah kaum komunis yang sepaham
dengan kaum proletar untuk mengorganisasikan
diri dan memberontak demi meraih kemerdekaan. Tujuan gerakan komunis adalah membentuk
proletariat menjadi satu kelas, menggulingkan kekuasaan borjuis, serta merebut
kekuasaan politik.
Argumen pendukung:
Situasi
yang sangat marak dalam dunia Eropa kala itu adalah kehadiran dari partai komunis sebagai
partai oposisi. Kaum ini memanifestasikan
dirinya sehingga
mereka diakui. Pada saat yang
sama, muncul pula kaum borjuis yang merajalela, hendak
menguasai dunia. Mereka terdiri dari para orang-orang merdeka, para patrisir,
tuan-tuan bangsawan yang senantiasa menggencarkan
penindasan kepada masyarakat kecil, kaum yang
lemah dan termasuk para buruh dan budak.
Kaum
borjuis modern muncul dari masyarakat mantan feodal
yang tetap mempertahankan perjuangan kelas.
Kemudian mereka menciptakan kelas-kelas baru, menyusun syarat-syarat penindasan
yang baru bagi masyarakat yang lemah. Mereka menyingkirkan sistem produk
industri dan menggantinya dengan sistem manufaktur. Bahkan ketika sistem ini
tak lagi cocok mereka mengantinya dengan industri modern raksasa. Akibatnya, krisis besar-besaran terjadi dalam masyarakat. Masyarakat biasa
terlempar dalam suatu kehidupan yang buruk.
Akhirnya, yang kaya semakin kaya dan yang miskin
semakin miskin. Di sisi
lain mereka pun
mendatangkan maut untuk dirinya sendiri.
Kaum
proletar kemudian perlahan-lahan mulai berkembang. Mereka menjadi kuat akibat
perbuatan dari kaum borjuis yang berusaha untuk
bertahan. Mereka kemudian memberontak kaum borjuis
dan berusaha untuk mengusahakan kemenangan dari pihak kelompok mereka yang
disebut sebagai proletariat. Dengan adanya
pembentukan orgnanisasi dari kaum proletar,
mereka berhasil memerdekakan diri dari penindasan
kaum borjuis.
Adapun
kaum komunis menyerukan penghapusan milik kaum borjuis bukan proletar, sebab
borjuis mengambil keuntungan dari kaum proletar berupa kerja upahan itu (sistem kerja feodal). Hal ini mengakibatkan
terciptanya kelas-kelas dan antagonisme kelas itu yang hendak diperangi oleh
kaum komunis. Yang dimaksudkan
penghapusan milik borjuis adalah penghapusan kemerdekaan, kepribadian dan
keluarga menurut paham borjuis untuk menggantikannya dengan paham komunis, di
mana semuanya adalah milik bersama. Jadi, intinya kaum borjuis itu harus
dilenyapkan.
Penghapusan
keluarga oleh kaum komunis dimaksudkan untuk mengganti pendidikan keluarga
dengan pendidikan sosial, supaya pendidikan diselamatkan dari kaum berkuasa.
Komunis hendak melakukan hak bersama atas kaum wanita secara sah dan
terang-terangan. Komunis mengacuhkan tuduhan borjuis bahwa mereka menghapus
kebenaran-kebenaran abadi. Yang ditekankan di sini adalah suatu revolusi kelas
buruh yakni mengangkat proletariat pada kedudukan kelas yang berkuasa,
memenangkan perjuangan demokrasi. Proletariat akan menggunakan kekuasaan
politiknya untuk merebut, selangkah demi selangkah, semua kapital dari borjuis,
memusatkan semua perkakas produksi ke dalam tangan negara, artinya, proletariat
yang terorganisasi sebagai kelas yang berkuasa, dan untuk meningkatkan
tenaga-tenaga produktif secepat mungkin. Hal ini akan mungkin dengan perombakan
tak kenal ampun terhadap hak-hak atas milik dan terhadap syarat produksi
borjuis untuk merevolusionerkan cara produksi komunis.
B.2. Konsep Alienasi dalam Economic and Philosophic Manuscripts[7]
Tesis: Menurut Karl Marx, alienasi berawal dari kenyataan
hak milik perseorangan. Kenyataan ini berkaitan dengan aktivitas kerja sebagai
kondisi mendasar bagi manusia. Untuk menghapus kerja yang dialienasi,
emansipasi kaum pekerja perlu diupayakan.
Argumen pendukung:
Alienasi
merupakan situasi di mana pekerja atau kaum proletar terasing dari
kehidupannya. Alienasi terbentuk sebagai hasil ekploitasi dari kaum kapitalis
terhadap pekerja dengan mengartikannya sebagai modal. Dari pengamatan Marx,
alienasi menciptakan pekerja tidak memiliki kontrol atas aktivitas kerjanya.
Pekerja menjual tenaganya, namun hasil kerjanya diambil pemilik. Maka, pekerja
menjadi paling sengsara daripada barang dagangan yang dihasilkannya karena adanya
perbedaan kelas antara pemilik dengan pekerja. Konsep alienasi Marx muncul dari
kritiknya atas pemikiran Hegel tentang alienasi. Jika Hegel menyebut alienasi
merupakan salah satu bentuk dari manifestasi Roh Absolut, maka Marx melihat alienasi
suatu kenyataan konkrit.
[8]
Hak
milik perseorangan merupakan produk/konsekuensi langsung dari kerja yang
dialienasi.[9] Kerja dalam
hal ini menunjuk pada objektivikasi manusia yang memperalat dirinya untuk
mendapat nafkah. Hak milik telah merenggut hubungan eksternal pekerja dengan
alam dan dirinya sendiri. Padahal, melalui aktivitas kerja manusia
mewujudkan kemampuan dirinya dan
realitas diri. Namun, kerja yang dialienasi justru mengingkari diri manusia.
Kerja menjadi sesuatu yang bersifat eksternal.
Menurut
Marx, ada 4 aspek alienasi dalam bidang kerja, yaitu:
1) Manusia mengalami alienasi dari obyek yang diproduksinya. Maksudnya,
tujuan utama dari kerja manusia bukan memperoleh suatu produk yang berguna bagi
mereka, tapi bagi kaum borjuis. Dalam hal ini, apa yang akan mereka kerjakan
ditentukan oleh kaum borjuis.
2) Manusia mengalami alienasi dari proses produksi. Maksudnya, kaum
buruh harus membayar kembali untuk memperoleh hasil produksinya, karena produk
yang dihasilkan adalah milik dari kaum kapitalis (borjuis).
3) Manusia teralienasi dari dirinya sendiri. Artinya, dalam sistem
kapitalis para pekerja tidak saling bekerja sama, sehingga mereka tidak saling
mengenal.
4) Manusia teralienasi dari pergaulannya dengan teman-teman dan
masyarakatnya. Artinya, hubungan para pekerja dikontrol secara ketat. Kaum
buruh dijadikan sebagai mesin produksi yang menguntungkan kaum kapitalis.
Dari keterasingan yang dialami
manusia, emansipasi menjadi jalan pembebasan dari kekuasaan-kekuasaan objektif
dari hal eksternal. Marx mencita-citakan keadaan manusia yang bersifat sosial,
utuh dan bebas berkarya. Emansipasi kaum pekerja hanya dapat tercapai melalui
penghapusan hak milik pribadi atas alat-alat produksi. Karena hak milik itu
sebagai dasar sistem masyarakat kapitalis, pembongkaran struktur masyarakat
dimulai dengan cara itu. Marx menegaskan bahwa gerakan revolusi tak dapat
dielakkan.
B.3. Kekuasaan Uang Menurut Marx
dalam Economic and Philosophic Manuscripts[10]
Tesis: Uang merupakan suatu unsur yang sebagian
besar esensinya mengandung hal-hal yang negatif yang dapat mengubah segalanya. uang
juga merupakan unsur yang dapat mendatangkan penyimpangan bagi
kebutuhan alami manusia, karena uang
dapat mendatangkan pembalikan dari sesuatu yang jahat menjadi baik dan juga
sebaliknya, oleh sebab itu tidak mendatangkan
keseimbangan.
Argumen pendukung:
Uang disebut sebagai
unsur yang sebagian besar esensinya adalah negatif karena memiliki sifat yang
dapat membeli segala sesuatu, meng-hak-miliki semua objek, dengan demikian uang
adalah objek dari kepemilikian nyata. Di sini menerangkan keuniversalan uang
yang memiliki daya kemahakuasaan dari keberadaaannya. Oleh karena itu, ia berfungsi sebagai
makhluk yang mahakuasa. Uang menjadi perantara antara kebutuhan manusia dengan
suatu objek juga antara kehidupannya dengan alat hidupnya.
Marx menerangkan kaitan
tentang makna uang menurut Goethe dan Shakespare dengan mengatakan uang adalah
sumber kekuasaan. Sifat-sifat uang menjadi sifat-sifat manusia dan
kekuasaan-kekuasaan yang ditimbulkan dari unsur hakiki uang menjadi
kekuasaan-kekuasaan pemiliknya. Dengan demikian kemampuan pribadi manusia tidak
ditentukan oleh unsur individualitas manusia
melainkan oleh kekuasaan uang. Manusia yang jelek dapat membeli ribuan wanita cantik untuk dirinya,
manusia yang jahat, tidak jujur, tidak bermoral, tetapi karena uang manusia
diberi kehormatan karena efek kekuasaan uang yang dimilikinya.
Uang merupakan tali
yang mengikat individu pada kehidupannya sebagai manusia, sekaligus menjadi
agen perceraian individu, karena adanya kekuatan Galavano-kimiawi (universal) dari masyarakat. Kekuatan uang dalam
mengikat nyata dalam setiap unsur baik manusia maupun alam yang sangat
bergantung padanya. Tanpa uang segalanya takkan berjalan lancar. Jadi uanglah
pengendali yang memiliki otoritas dalam masyarakat. Hal ini didukung oleh
pendapat Shakespare yang mengatakan adanya dua sifat uang yakni uang adalah
dewa yang tampak dan merupakan pelacur
umum, mucikari umum orang-orang dan bangsa. Dengan kata lain Shakespare
mengatakan bahwa uang mempunyai makna positif sekaligus makna negatif. Dengan
demikian, uang dapat mengubah setiap daya ini menjadi sesuatu yang bukanlah
dirinya – mengubahnya, yaitu menjadi kebalikannya.[11]
Dapat dikatakan bahwa uang, sebagai konsep mengenai nilai yang ada dan aktif
memiliki daya mengacaukan dan menukarkan segala sesuatu, ia adalah pengacau dan
penggabung umum dari segala sesuatu dan penggabungan semua kualitas alamiah dan
manusiawi.
Kekuasaan uang nampak
pula dalam kemampuannya mengubah keinginan-keinginan dari dunia imajinasi
menjadi keberadaan aktual, sehingga uang merupakan daya kreatif yang sesungguhnya.
Misalnya seseorang menginginkan sepotong ayam goreng dalam imajinasinya. Hal
itu akan tetap menjadi imajinasi semata tanpa menjadi aktual jika tak ada uang
yang menjadikannya aktual. Uang
juga menjadi pengikat
individu dalam kehidupan manusia. Artinya,
manusia dan hubungannya dengan dunia sebagai suatu hubungan manusiawi maka manusia
dapat mempertukarkan cinta, kepercayaan juga keyakinan.
C. Tinjauan Kritis atas Gagasan-Gagasan
Karl Marx
C.
1. Terhadap Manifesto Komunis
Tak bisa dipungkiri, aspek penting
dari Manifesto Komunis merujuk pada
sifat instrumentalis suatu negara. Marx dan Engels menerangkan bahwa negara
adalah alat dari kelas tertentu. Negara sebagai kekuasaan politik yang
terorganisasi dari suatu kelas. Sebuah komite yang mengelola kepentingan
bersama kaum borjuis secara keseluruhan. Maka, transisi dari sistem feodalisme
menuju kapitalisme itu diikuti dengan penyesuaian kekuasaan politik terhadap
kepentingan kelas kapitalis yang sedang tumbuh. Lebih dari itu, Manifesto juga memberikan penekanan
penting pada perjuangan kelas-kelas. Dalam perjuangannya, kelas buruh
berhadapan dengan kapital secara perlahan-lahan sesuai dengan tingkat kesadaran
yang dimilikinya.
Sayangnya, ada hal yang terlewatkan
dalam Manifesto, yakni penghapusan
hak milik menyebabkan kaburnya kebutuhan manusia. Setiap individu memiliki
haknya untuk mempertahankan diri. Dengan penghapusan, sikap penghargaan atas
jerih payah individu malah diabaikan. Tak hanya itu, pengaturan undang-undang
dari kelas yang berkuasa sebenarnya bisa menciptakan gejolak sosial karena
dendam dari kompetisi ketimbang mengatur masyarakat yang adil dan bebas.
C. 2. Terhadap
Konsep Alienasi
Bagi
Marx, proses alienasi diungkapkan dalam kerja dan pembagian buruh. Kerja baginya
adalah keterhubungan aktif manusia dengan alam, penciptaan sebuah dunia baru,
termasuk penciptaan dirinya sendiri. Dalam
kerja yang tidak teralienasi manusia bukan hanya mewujudkan dirinya sebagai
seorang individu, tetapi juga sebagai sebuah makhluk species.
Proses
alienasi dari analisis sosial Marx ternyata dipenuhi oleh unsur reduksionisme. Marx
telah mereduksi ungkapan sosial manusia pada bidang ekonomi. Hilangnya faktor
politik dan cara manusia berpikir dalam kerangka Marx tentang cara manusia berproduksi
membuat pandangan aktivitas kerja menjadi buram. Marx juga tidak menangkap
konsep kekuasaan demi kesejahteraan manusia. Ada bagian yang terlewatkan ketika
Marx berbicara tentang emansipasi kaum pekerja melalui revolusi bahwa masih ada
kemungkinan reformasi dalam sistem kapitalisme. Kemungkinan apa itu? Dengan
menghilangkan dampak negatif dari mekanisme kapitalisme. Contoh unsur-unsur
sosialisme dalam ekonomi kapitalisme itu adalah kenaikan upah yang diterima
buruh, tersalurkan aspirasi mereka dan kebebasan aspirasi lewat serikat-serikat
buruh. Fakta sejarah, revolusi terbukti bukan satu-satunya jalan, karena
pertentangan dua kelas, majikan dan buruh, bisa dikompromikan. Justru,
demokrasi yang mampu menjembatani kapitalisme menuju sikap-sikap sosial
(manusiawi), bukan revolusi.
Dalam
hal agama, Marx juga terjebak dalam reduksionisme. Penilaiannya yang parsial
berangkat dari faktor ekonomi (produksi) semata, mengakibatkan ia tidak
menangkap: (1) Kemunculan agama sebagai kekuatan yang melakukan transformasi
sosial. (2) Analisanya menunjukkan luputnya kebutuhan transendental manusia. (3)
Usulannya tentang komunisme yang mengandaikan masyarakat tanpa kelas, tanpa
kepemilikan individu, tanpa pembagian kerja, dan tanpa adanya paksaan merupakan
utopia dan kelihatan absurd. Dari aspek moral, Marx juga kurang memberi
persetujuan evaluatif mengenai prioritas moral dari kedamaian, kemakmuran,
harmoni sosial dan kerja kreatif.
C. 3. Terhadap Kuasa Uang
Menurut
Marx, uang adalah unsur yang sebagian besarnya adalah negatif. Artinya, meskipun
mendatangkan kebaikan toh yang lebih banyak dimunculkan oleh uang adalah
hal-hal yang negatif. Pasalnya, uang mendatangkan pembalikan, mengubah dimensi
objek-objek, yakni yang jahat menjadi baik dan yang baik bisa menjadi jahat.
Uang menjadi faktor yang mendatangkan kekuasaan tetapi sekaligus yang dipakai
untuk menindas. Hal ini tercipta karena sifat uang yang memiliki kemahakuasaan.
Tanggapan
kritis yang ditekankan ialah bahwa meskipun uang dilihat sebagai unsur yang sebagian
besarnya adalah negatif tergantung dari bagaimana memanfaatkan kekuasaan
tersebut. Uang hanyalah objek dan yang dibutuhkan adalah bagaimana usaha untuk
mengarahkan atau mengatasi pergerakan dari objek tersebut. Jika uang dipakai
untuk menguasai segala sesuatu tanpa terikat pada prinsip materialisme maka
uang akan terarah dengan baik. Artinya, bahwa hendaklah uang dipakai
berdasarkan tuntutan nilai-nilai dan norma-norma moral yang benar.
Penutup
Pemikiran Karl Marx memang
menyumbangkan teori filsafati yang tetap relevan. Dilihat dari situasi sosial
dan riwayat hidupnya, Marx tumbuh sebagai pemikir sosialis radikal. Karyanya Manifesto Komunis dan Naskah-Naskah Ekonomi & Filsafat
menegaskan ide-ide yang bersifat praktis demi kemajuan masyarakat yang memiliki
persamaan hak dan bebas. Ia mempresentasikan gerakan komunis, serta melihat
realitas keterasingan kerja manusia dan kuasa dari uang. Meski banyak kritik
atas teorinya, konsep-konsep Marx menyumbang kesadaran akan tindakan sosial
dari aktivitas hidup manusia sebagaimana telah diuraikan dalam pemaparan
tesis-tesis di atas.
Sumber Pustaka:
Edwards, Paul (editor). Encyclopedia of Philosophy. MacMillan
Co.: New York, 1972.
Elster, Jon. Karl Marx: Marxisme-Analisis Kritis. PT
Prestasi Pustakaraya: Jakarta, 2000.
Hardiman, F. Budi. Filsafat Modern: dari Machiavelli sampai
Nietzsche. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 2007.
Magnis-Suseno, Franz. Filsafat sebagai Ilmu Kritis. Kanisius: Yogyakarta, 1992.
Magnis-Suseno, Franz. Pemikiran Karl Marx:
Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta, 1999.
Marx, Karl. Naskah-Naskah Ekonomi dan Filsafat tahun
1844. Diterjemahkan oleh Ira Iramanto. Jakarta:
Hasta Mitra.
Marx, Karl dan Engels,
Fredrich. “The Communist Manifesto,” (pdf)
presented by Andy Blunden. Melbourne School of Continental Philosophy, July
2009. Diunduh dari www.Marxists.org, 25 Oktober 2013.
Muawiyah Ramli, Andi. Peta Pemikiran Karl Marx [Materialisme
Dialektis dan Materialisme Historis]. PT. LkiS: Yogyakarta, 2000.
Russel, Bertrand. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan
Kondisi Sosio-Politik dari zaman Kini Hingga Sekarang. Diterjemahkan oleh
Sigit Jetmiko, dkk. Yogyakarta, 2003.
Smart, Ninian. “Karl Marx”
dalam Falsafah Dunia. Naz Sdn Bhd:
Kuala Lumpur, 2009.
[1] Bdk. Paul Edwards (editor), Encyclopedia
of Philosophy . (MacMillan Co.: New York, 1972), hlm. 171-172.
[2] Tokoh utama kelompok ini antara lain: Feuerbach, Arnold Ruge serta
Bruno Bauer yang kala itu menjadi asisten profesor di fakultas Teologi Berlin. ibid, hlm 172.
[3] Bdk. F. Budi Hardiman. Filsafat
Modern: dari Machiavelli sampai Nietzsche. (Gramedia Pustaka Utama:
Jakarta, 2007), hlm. 233.
[4] Bdk. Bertrand Russel, Sejarah Filsafat
Barat dan Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik dari zaman Kini Hingga
Sekarang, terj. Sigit Jetmiko
dkk. (Yogyakarta, 2003), hlm. 127.
[5] Bdk. Ninian Smart. “Karl Marx” dalam Falsafah Dunia. (Naz Sdn Bhd: Kuala Lumpur, 2009), hlm. 361.
[6] Bdk. Karl Marx. “The
Communist Manifesto” terkutip dalam Daniel Kolak & Garret Thomson. The Longman Standard History of Philosophy.
(Pearson Longman: New York, 2006), hlm. 864-875.
[7] Disarikan dari Karl Marx.
“Alienation” terkutip dalam Daniel Kolak & Garret Thomson. The Longman Standard History of Philosophy.
(Pearson Longman: New York, 2006), hlm. 875-882. Bdk. Karl Marx. Naskah-Naskah
Ekonomi dan Filsafat Tahun 1844.
Diterjemahkan oleh Ira Iramanto. (Jakarta: Hasta Mitra), hlm. 69-85.
[8] Lih. Andi Muawiyah Ramli. Peta
Pemikiran Karl Marx [Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis]. (PT.
LkiS: Yogyakarta, 2000), hlm. 36.
[9] Bdk. Jon Elster. Karl Marx: Marxisme-Analisis Kritis. (PT
Prestasi Pustakaraya: Jakarta, 2000), hlm. 59-69.
Comments
Post a Comment